Dua Saudara Penderita Kanker Kulit Butuh Biaya

Tak Kunjung Membaik, Merujuk Diri ke RS Dharmais

Bayangkan bagaimana hidup tanpa matahari. Sebagai sumber kehidupan di muka bumi, hidup tanpa paparan cahayanya tentu seperti terpenjara di sel isolasi. Namun, itulah yang harus di jalani dua bersaudara Aldo Ichwan, 15 dan adiknya Alvin Rahmadani, 13, warga Kelurahan Cupak Tangah, Kecamatan Pauh Kota Padang.

Dari analisis medis laboratorium Patologi Anatomi RSUP dr M Djamil Padang, keduanya diduga mengidap penyakit Xeroderma pigmentosum (XP). Akibat penyakit tersebut, dua anak pasangan Syafridon dan Tuti Murni ini tidak bisa berinteraksi dengan cahaya matahari langsung. Jika terpapar matahari langsung, sel-sel kulitnya akan rusak.

Aldo saat dirawat di RS dr M Djamil Padang

Dari beberapa referensi medis dan kondisi yang dialami Aldo dan Alvin, terlihat freckles (bercak-bercak hitam) di bagian-bagian kulit yang terbuka. Pola penyebaran bercak ini khas. Awalnya bercak hanya muncul di bagian kulit yang tidak tertutup oleh pakaian.

Misalnya, wajah, leher, lengan, atau tungkai. Di bagian yang terlindung dari sinar matahari, seperti dada dan dan perut kulit Aldo dan Alvin tidak mengalami masalah apa-apa.

Bercak-bercak hitam ini memang tidak terasa gatal atau sakit. Lama-kelamaan, jika kulit terus-menerus dibiarkan terpapar sinar Matahari, masalah menjadi serius seperti kondisi keduanya saat ini. Dimana, penyakit ini berkembang menjadi kanker kulit. “Dan penyakit ini sudah diidapnya sejak umur satu tahun. Bercak-bercak hitam yang tumbuh sedikit tersebut, akhirnya jadi luka dan infeksi,” ujar Syafridon, Rabu (9/12) di Padang.

Pascagempa, dua anak pasangan Syafridon dan Tati Murni itu, memang menjalani pengobatan di RS khusus kanker tersebut. Pasalnya, RS M Djamil kehilangan fasilitas pengobatannya yang rusak. Sejak dua minggu lalu, Aldo dan Alvin dirujuk ke Dharmais. Tanpa dukungan tersebut, Syafridon yang telah berhenti dari pekerjaannya, mengaku tidak akan sampai ke sana.

Sesampai di RS Kanker Nasional, masalah baru muncul. Biaya hidup yang tinggi tanpa pekerjaan sembari menunggu penanganan dua anaknya, tentu membuat ia dan istri kembali tersandung. Namun, ia bersikeras, kapan perlu ia puasa dan tidur di emperan RS hingga pengobatan anaknya tuntas. “Memang ada saudara di Jakarta. Tapi tidak mungkin merepotkan. Hidupnya saja sudah susah. Jika memungkinkan untuk ditinggalkan, saya akan mencari pekerjaan lain,” tekadnya.

Dulu, saat ia tahu bercak tersebut menjadi luka, ia mencoba mengkombinasikan pengobatan alternatif dan medis di RS M Djamil Padang. Hal itu berlangsung hingga pengobatan terakhir di Padang. Namun, bukannya sembuh, penyakit tersebut tambah parah.

Berhenti Sekolah

Diduga, karena semakin sering terpapar cahaya matahari, penyakitnya makin menjadi. Bagian muka Aldo dan Alvin, merupakan bagian tubuh terparah yang dihinggapi infeksi. Akibatnya, selain menggangu kerja organ dan panca indera di bagian tersebut, hal itu membuat mereka minder. “Sejak sakitnya makin parah, keduanya berhenti sekolah. Aldo mampu menyelesaikan pendidikannya hingga SD dan Alvin berhenti sampai kelas V SD,” terang Syafridon.

Tersandung Biaya

Untuk pengobatan selanjutnya, Syafridon tidak bisa memperkirakan berapa biaya pasti yang dibutuhkan. Saat ini, di RS Dharmais, ada lima anak yang menderita penyakit yang tidak menular itu. Kelimanya berasal dari Sumbar. Dari salah satu pasien yang mendapat penanganan awal, untuk operasi awal saja butuh biaya Rp34,4 juta per orangnya.

Alvin saat dirawat di RS dr M Djamil Padang

Sementara, untuk dua anaknya, baru saja menjalani biopsy (pengambilan sampel jaringan kulit yang terkena XP, red). Menurut keterangan pihak RS, kata Syafridon, hasilnya baru akan keluar dua minggu lagi. Padahal, waktu di Padang, hasil biopsy bisa keluar kurang dari satu minggu. “Sekarang saya bingung mau tinggal dimana. Pihak RS telah menganjurkan untuk meninggalkan RS agar tidak menambah biaya perawatan dan penginapan. Rencananya saya akan tinggal dulu di rumah singgah sampai hasil biopsy keluar dan melanjutkan pengobatan. Soal biaya, itu yang saya harapkan,” ungkapnya.

Saat ini, setelah menjalani perawatan selama 12 hari, ia mengaku belum tahu biaya yang dibutuhkan. Setelah berhenti bekerja sebagai sales alat tulis, otomatis ia tidak mempunyai penghasilan untuk pengobatan dua anaknya ini. Sementara, Tuti, istrinya yang bekerja di RSJ HB Saanin Padang, jelas penghasilannya tidak cukup. “Sekarang, saya mau lakukan apapun agar anak saya bisa sembuh asal halal. Tidak tahu saya harus mengadu kemana lagi. Cuma dua anak ini harapan kami,” serunya menahan tangis diseberang handphone.

Galang Dana

Bukannya tidak ada yang peduli, teman sealmamater Syafridon di SMP 5 Padang angkatan 83, telah melakukan hal itu. Meski baru terkumpul dana dalam jumlah kecil, setidaknya mampu mengantarkannya untuk merujuk ke RS Dharmais. Rinaldi, teman seangkatannya di SMP 5 Padang mengharapkan pihak lain turut membantu rekannya ini.

Ia sendiri baru tahu penyakit yang menimpa anak temannya ini 7 November lalu. “Kala itu saya bertemu saat seorang teman meninggal dunia. Dari sana saya bertanya soal kondisinya sekarang. Baru saya tahu kalau kondisinya seperti ini. Sejak itu, saya kumpulkan teman seangkatan untuk membantu ala kadarnya. Memang tidak cukup, tapi ini baru awal. Semoga saja ada pihak lain yang peduli,” harapnya.

Tentang XP

Menderita penyakit ini, tentu sangat menyiksa. Penyakit ini, menurut Kapita Selekta Kedokteran, langka dan ditransmisikan melalui sifat resesif pada autosom berupa kerusakan pada mekanisme perbaikan DNA. Penyebabnya antara lain, pernikahan sekerabat. Gangguan XP terjadi pada cetak biru sel, penyakit ini bersifat genetik. Tidak menular, melainkan menurun dari orangtua kepada anak. Namun, tidak berarti penderita XP, orangtuanya juga menderita XP.

Karena XP merupakan penyakit bawaan, penderita sudah mengidap penyakit ini sejak lahir. Namun, pada tahun pertama, bayi dengan kelainan XP bisa saja belum menunjukkan gejala sakit. Biasanya penyakit ini mulai terdeteksi pada saat bayi berusia 1 – 2 tahun. Pada usia ini, kulit bayi mulai menunjukkan bercak-bercak hitam jika terkena sinar Matahari.

Jika deteksinya telat, gangguan XP bisa berkembang lebih parah. Penyakit ini bisa menyebar ke mana-mana. Salah satu komplikasi yang paling sering adalah kanker kulit. Kanker kulit pada penderita XP biasanya lebih parah daripada penderita non-XP. Seperti yang dialami Aldo dan Alvin, kanker kulit stadium IV. (sandy/dikutip dari Padang Ekspres, edisi 10 dan 11 Desember 2009)

2 thoughts on “Dua Saudara Penderita Kanker Kulit Butuh Biaya

  1. salam..saya eni,saya turut mendoakan supaya cepat sembuh..saya hanya bisa memberi sedikit saran coba minum WINMETA produk makanan kusus untuk sel-sel tubuh kita,siapa tau Tuhan berikan kesehatan.untuk dapat produknya bisa telp saya 08158244179.trims,semoga ada manfaatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s