Ayo Jadi Golput…

Suara rakyat yang katanya menjadi penentu negara ini tidak akan berguna lagi. Pasalnya, sistem yang digunakan menjaring suara tersebut dalam Pemilu mendatang dan Pilpres 2010 tidak memberikan perubahan untuk rakyat. Baik UU tentang Pemilu, Partai Politik (Parpol) dan UU Susunan dan Kedudukan (Susduk) keterkaitannya dengan kepentingan elit sangat dominan. Sebaliknya, tidak untuk rakyat.

Jelasnya, UU yang seharusnya membuat sistem untuk kepentingan rakyat tidak terlaksana. Apakah itu Pemilu atau pemilihan tampuk pemimpin baik kabupaten/kota, provinsi sampai Pilpres baru berfungsi minimal terhadap realisasi dan manfaat demokrasi.

Fungsi Pemilu baru sebatas pelaksanaan dagang sapi. Sementara, jaminan HAM, menyelesaikan masalah sembari membuat kemajuan melalui kebijaksanaan publik yang relevan dan memproduksi public goods serta menjamin proses politik damai, masih jauh dari harapan. Sekalipun UU Pemilu dan kebijakan terkait direvisi setiap menjelang Pemilu, hasilnya, belum tampak.

Para pembuat UU Pemilu atau kebijakan lainnya belum menyadari kewajibannya untuk memfungsikan institusi demokrasi. Padahal merekalah yang diharapkan untuk untuk memperbaiki kehidupan rakyat, bangsa serta negara. Perspektif mereka tentang Pemilu terlalu sepihak dan picik. Akibatnya, mereka belum merasa bersalah bahwa mereka telah menyia-nyiakan dua kali Pemilu yang melingkupi satu dekade reformasi.

Elit politik sendiri terlalu fokus dengaa memfungsikan Pemilu dan pemilihan lainnya sebagai mekanisme pergantian atau pengukuhan ulang pemimpin negara. Sejauh ini, pascareformasi muncul wajah-wajah baru pemimpin bangsa. Namun, sejauh perjalanan reformasi mereka belum mampu mengaplikasikan art atau seni memimpin. Baru sebatas teori. Langkah strategis yang mungkin dilakukan untuk pemilihan-pemilihan berikut, mungkin saja dengan meniadakan hak pilih alias Golput.

Hal ini menunjukkan ketidakpercayaan kita terhadap sistem yang dibuat berbalut kepentingan segelintir orang, tidak seluruh rakyat. Untuk menghindari kekosongan tampuk pemerintahan, Pemilu cukup diikuti 30 persen pemilih yang ada. Tak lebih dari sekedar formalitas. Setelah itu, mari sama-sama kita perbaiki sistem ini. Biarkan yang telah terjadi sebagai pembelajaran. Kalau perlu perbesar Golput diatas 50 persen.

3 thoughts on “Ayo Jadi Golput…

  1. Mari Golput? Hmmm,,,,, perlu dicermati nih. Mungkin rakyaik bapedoman bahwa mamiliah itu kan HAK, nah kalau HAK, tantu buliah dikarajoan buliah indak, soalnya HAK bukan KEWAJIBAN.

    Sadangkan KEWAJIBAN sajo banyak nan ditinggakan urang………. he he he

    batua loh mah ndak ndan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s