Pupuk Bersubsidi. Buat Siapa?

Pupuk bersubsidi perlu ditinjau ulang. Jika pemerintah benar-benar memperhatikan kesejahteraan petani pola distribusi perlu diperpendek. Pasalnya, esensi dari subsidi pupuk yang digulirkan pemerintah bukanlah untuk kesejahteraan petani, melainkan untuk ketersediaan pangan demi tercapainya ketahanan pangan saja.

Lalu, kenapa ketahanan pangan tidak mendukung kesejahteraan petani? Pikirkan kembali. Ketahanan pangan bukanlah untuk petani, melainkan untuk ketersediaan pangan bagi segenap bangsa semata. Dengan kebijakan subsidi tersebut, petani tidak bisa berperan aktif, mereka hanya sebagai objek faktor produksi bukan sebagai subjek.

Ironisnya bangsa ini didominasi oleh petani yang tak pernah sejahtera. Mereka hidup dengan harapan kesejahteraan yang hanya menjadi mimpi. Hidup segan mati tak boleh. Jika mereka mati, mati pulalah bangsa ini. Secara makro pun, pemerintah harus memberdayakan lembaga parastatal seperti Bulog dalam pengawasan pasar input dan output pertanian.

Subsidi adalah sebuah kebijakan zalim yang tak akan mensejahterakan petani. Subsidi hanya sebuah cara untuk memojokkan petani secara tidak langsung. Kenapa demikian? Sebab, petani terlalu bergantung pada pemerintah sebagai penyedia pasar input yang menyediakan faktor produksi lainnya. Sementara pengawasan pasar output-nya parsial saja.

Solusi fundamental untuk menyejahterakan petani, belum ada. Permasalahan pupuk hanyalah bagian kecil dalam sebuah sistem yang bermasalah lainnya. Tujuan dari subsidi pupuk adalah untuk menstimulasi petani untuk lebih produktif. Perbandingan linearnya, jika harga pupuk tinggi maka kebutuhan pangan akan beras akan tinggi. Dengan demikian tujuan ketersediaan beras sulit tercapai. Tidak ayal lagi, beras menjadi bagian dari politik pangan yang takkan kunjung usai.

Di negara maju, Korea Selatan misalnya, cara ini tidak terpakai. Stimulan tidak efektif melalui subsidi ini. Kompensasi terhadap hasil produksi petani akan lebih efektif. Dumping yang dilakukan Jepang memiliki alasan yang tepat. Sebab, harga beras dan kebutuhan lain yang tinggi akan menyebabkan tingkat kesejahteraan segenap warganya menjadi terjamin.

Pangan sebagai kebutuhan pokok harus dipenuhi dengan harga tinggi. Dengan demikian petani menjadi dominan berperan sebagai objek perekonomian, bukan sebagai budak produksi seperti yang terjadi di sini. Dumping yang dilakukan Jepang dengan harga 12 kali daripada harga dunia akan lebih efektif. Dengan cara ini, petani memilih melempar produknya untuk kebutuhan dalam negeri. Sehingga kebutuhan dalam negeri akan tetap terpenuhi dan kesejahteraan petani terjamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s