Potensi Pakan dari Limbah Sawit

Harapan di Tengah Cekaman Kapitalisme Pertanian

Satu dasawarsa terakhir, limbah sawit dan beberapa hasil ikutan pertanian lainnya, banyak diteliti sebagai alternatif pakan ternak. Hasilnya, pakan dengan bahan itu, menunjukkan produksi ternak cukup baik atau malah lebih baik dibanding pakan komersil yang dijual perusahaan. Sayang, teknologi pengolahan pakan ini masih gagu untuk diterapkan petani peternak konvensional.

Padahal, kebutuhan pakan dalam usaha peternakan memakan biaya produksi hingga 70 persen. Sementara saat ini, pakan yang dimonopoli perusahaan besar, harganya tak menentu. Kadang, di tengah produksi tengah segar-segarnya, harga melambung. Alhasil, peternak kewalahan dalam menutupi biaya produksi.

Pakan sendiri, merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha peternakan. Ketersedian bahan pakan yang masih bergantung dengan bahan impor seperti jagung, bungkil kedelai dan tepung ikan, memaksa produsen pakan mendongkrak harga disamping komersialisasi.Buah sawit

Salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersil dengan menggunakan penggunaan sumber daya lokal. Salah satunya adalah limbah produksi Crude Palm Oil (CPO) yang tengah menjadi primadona di pasaran dunia. Salah satu sisa hasil pengolahan kelapa sawit menjadi CPO adalah lumpur sawit. Limbah ini, tiap tahunnya meningkat seiring meningkatnya produksi kelapa sawit.

Beranjak dari kondisi itu, Dosen Universitas Jambi Ir Noferdiman MP mengambil tema pakan alternatif untuk pakan ayam broiler sebagai disertasinya untuk memperoleh gelar Doktor (Dr). Menurutnya, di Indonesia, berdasarkan data Dirjen Bina Produksi Perkebunan, tahun 2007 luas areal kelapa sawit mencapai 6,6 juta hektar, dengan estimasi tiap hektare produksi sawit mencapai 4 ton.

Jika tiap ton tandan buah segar (TBS) menghasilkan 250 kg minyak sawit dan hasil ikutan lainnya, menyisakan 294 kg lumpur sawit. Lumpur sawit, setelah dikeringkan dan difermentasi jamur Phanerochaete chrysosporium kemudian dicampur dengan pakan konvensional, ternyata mampu menggantikan pakan komersil secara keseluruhan. “Namun, dari penelitian saya, batasan teraman adalah pada persentase 15 persen olahan lumpur sawit dan 85 persen campuran lainnya,” jelasnya dalam ujian disertasinya di Pascasarjana Unand, Rabu (8/12).

Dengan subtitusi itu saja, kata pria kelahiran Kerinci, 19 November 1968 ini, mampu meningkatkan keuntungan peternak hingga 60 persen dari keuntungan dengan pakan konvensional. Hitung-hitungan ini, didapatkannya dari harga pakan yang ditekan hingga dua persen saja, dapat mengkatrol keuntungan hingga delapan persen untuk penjualan karkas (produksi murni ternak, red).

Jika dihitung secara detail, harga pokok olahan lumpur sawit fermentasi tadi, cukup ditebus dengan Rp500 per kg-nya. Bandingkan dengan pakan komersil yang harganya mencapai Rp3.000 per kg-nya. Ia mengakui, temuannya ini belum bisa diaplikasikan secara sederhana di tingkat peternak. Peternak masih gagu dengan penerapan teknologinya yang masih milik laboratoris.

Namun ia yakin, jika pemerintah lewat penyuluh di lapangan bisa mengekspolrasi potensi lokal lainnya. Selain lumpur sawit, masih banyak potensi limbah pertanian lokal yang bisa dijadikan pakan ternak. Misalnya saja jerami padi atau tongkol jagung atau cangkang keong sekalipun. “Jika hal itu bisa mengarah kepada peternak, ketergantungan akan pakan komersil akan berkurang perlahan,” ungkapnya.

Ia mengakui, dari segi indeks produksi, capaian penelitiannya masih kalah beberapa poin dari perlakuan pakan komersil. Terkait pengembangan ilmu pengetahuan, temuan ini katanya akan sempurna dengan beberapa penelitian dan pengembangan lanjutan. “Namun, secara kualitas, ayam produksi dengan pakan temuannya ini lebih baik. Dimana, lemak abdomen yang selama ini tidak disukai konsumen lebih sedikit,” tambahnya.

Apalagi, di tengah gencarnya gerakkan produksi lokal. Bahan penyusun ransum dicampur temuannya tadi akan semakin menekan biaya produksi dengan harapan keuntungan ekstra untuk petani. Tentunya, pihak investor mesti berkomitmen untuk menggunakan produksi lokal. “Tentu, hal ini perlu komitmen bersama antara peternak, pemerintah dan investor,” tukas doktor ke-57 lulusan Pascasarjana Unand ini. (sandy/dari harian Padang Ekspres edisi 10 Desember 2009)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s